Kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan Barat mulai menunjukkan perkembangan positif.
Penanganan terpadu di lapangan, proses pendinginan, serta peluang hujan di sejumlah wilayah turut membantu menekan kebakaran yang sebelumnya meluas.
Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) Kolonel Arhanud Agung Sinaring Mahapasti, M. Mengatakan kondisi karhutla di Kalimantan Barat saat ini semakin menunjukkan progres membaik.
Meski demikian, asap masih terlihat di wilayah Kota Pontianak.
“Semakin menunjukkan progres membaik. Meskipun terlihat masih ada asap di Pontianak karena adanya angin dari utara ke selatan, sementara Pontianak berada di sebelah selatan hutan,” ujar Kolonel Agung melalui pesan WhatsApp kepada media CaAmaR.id.
Menurutnya, keberadaan asap yang masih terlihat di Pontianak tidak selalu menunjukkan adanya perluasan kebakaran baru.
Pergerakan asap juga dipengaruhi kondisi angin yang membawa asap dari wilayah sumber kebakaran menuju kawasan lain.
Kolonel Agung mengatakan membaiknya kondisi karhutla tidak terlepas dari kerja bersama berbagai unsur di lapangan serta faktor cuaca.
Hujan yang mulai mengguyur sejumlah wilayah Kalimantan Barat dalam beberapa hari terakhir membantu membasahi lahan dan mengurangi potensi api meluas.
“Selain kerja dan dukungan semua pihak, ini juga karena hujan deras beberapa hari ini yang sudah mulai melanda Kalimantan Barat sehingga mengurangi kebakaran lahan,” katanya.
Luas Lahan Terbakar Capai 48.535 Hektare
Data terbaru menunjukkan skala karhutla Kalimantan Barat sepanjang 2026 cukup besar.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada 15 September 2026 melaporkan total area terdampak karhutla di Kalimantan Barat mencapai 48.535,73 hektare.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan menjelaskan, angka tersebut terdiri atas lebih dari 38.310 hektare berdasarkan data lahan terbakar yang dihimpun sebelumnya dan tambahan 10.224 hektare lebih berdasarkan hasil pengukuran kondisi riil di lapangan.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa persoalan karhutla Kalimantan Barat bukan hanya berkaitan dengan jumlah titik panas, tetapi juga luas kawasan yang terdampak.
Sebelumnya, pada 8 September, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat menyebut indikasi luas area terbakar sekitar 38.310 hektare, namun area yang masih terbakar aktif saat itu telah menurun menjadi sekitar 200 hektare.
Jumlah titik api juga disebut turun signifikan dari sebelumnya lebih dari 2.000 titik menjadi sekitar 156 titik berdasarkan pemantauan terakhir saat itu.
Data mengenai jumlah titik panas juga perlu dibaca secara hati-hati.
Hotspot yang terdeteksi satelit tidak otomatis berarti seluruhnya merupakan kebakaran hutan atau lahan.
Pada 3 September 2026, BMKG Supadio mencatat 2.434 titik panas di Kalimantan Barat dalam periode 24 jam.
Saat itu BMKG juga memperingatkan bahwa sebagian wilayah Kalbar berada dalam kategori mudah hingga sangat mudah terbakar.
Namun, sehari setelahnya BNPB melakukan verifikasi lapangan terhadap data hotspot tersebut.
Dari 166 titik panas yang terdeteksi BMKG, hanya 61 titik yang setelah diperiksa dinyatakan benar-benar merupakan lokasi kebakaran.
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menegaskan verifikasi diperlukan karena data hotspot satelit perlu dikonfirmasi di lapangan sebelum digunakan sebagai dasar penanganan kebakaran.
Dengan demikian, angka hotspot, titik api hasil verifikasi, jumlah kejadian kebakaran, dan luas lahan terbakar merupakan indikator yang berbeda dan tidak dapat disamakan.
Seiring menurunnya titik api, penanganan karhutla di sejumlah wilayah Kalimantan Barat mulai memasuki tahap pendinginan.
BPBD Kalimantan Barat pada 14 September menyebut wilayah yang masih memiliki kebakaran antara lain Ketapang, Kayong Utara, Kubu Raya dan Mempawah, meskipun titik kebakaran di sejumlah daerah sudah relatif kecil.
Koordinator Harian Pusdalops BPBD Kalbar Daniel mengatakan sebagian besar penanganan telah beralih dari pemadaman menuju proses pendinginan, terutama untuk memastikan bara yang masih tersimpan di dalam lahan gambut benar-benar padam.
Pendinginan menjadi penting karena lahan gambut dapat menyimpan bara di bawah permukaan.
Kondisi tersebut memungkinkan asap tetap muncul meskipun api di permukaan sudah tidak terlihat.
Faktor cuaca turut menjadi bagian penting dalam upaya pengendalian karhutla.
BMKG pada 5 September melaporkan bahwa pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Kalimantan Barat membantu menghasilkan hujan yang membasahi lahan gambut dan memadamkan sejumlah titik api.
Operasi tersebut dilakukan melalui koordinasi dengan BNPB, Kementerian Kehutanan, TNI Angkatan Udara dan pemerintah daerah.
Upaya tersebut kemudian terus diperkuat.
Pada 17 September, BPBD Kalbar menyatakan OMC tetap dilaksanakan meskipun berdasarkan prakiraan BMKG terdapat peluang hujan di hampir seluruh kabupaten/kota di Kalimantan Barat.
BPBD menyebut peluang hujan pada 16 September cukup besar karena sebagian besar wilayah Kalbar tertutup awan hujan.
Peluang hujan diperkirakan sedikit menurun pada 18 dan 20 September, sebelum kembali meningkat pada 21-22 September.
BMKG juga mencatat Kalimantan Barat masih mendapat potensi hujan sedang hingga lebat pada periode 18-20 September di sejumlah wilayah.
Ancaman Karhutla Belum Sepenuhnya Berakhir
Meski penanganan mulai memasuki tahap pendinginan, ancaman karhutla belum sepenuhnya hilang.
Dalam prakiraan cuaca periode 18-24 September 2026, BMKG mencatat Kalimantan Barat masih memiliki 1.088 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi berdasarkan pemantauan satelit periode 7-16 September.
Angka tersebut menempatkan Kalbar sebagai salah satu provinsi dengan konsentrasi hotspot tinggi pada periode tersebut.
BMKG juga mengingatkan bahwa kondisi atmosfer kering masih mendominasi sebagian wilayah Indonesia dan dapat meningkatkan risiko kebakaran serta kabut asap.
Pada lahan gambut, api dapat menjalar ke lapisan bawah permukaan sehingga lebih sulit dideteksi dan dipadamkan.
Karena itu, turunnya jumlah titik api tidak serta-merta berarti seluruh persoalan karhutla telah selesai.
Pendinginan, patroli, pemantauan hotspot dan verifikasi lapangan tetap diperlukan untuk mencegah bara kembali menjadi api.
Status Tanggap Darurat Asap Diperpanjang
Keseriusan penanganan juga terlihat dari keputusan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat memperpanjang Status Tanggap Darurat Bencana Asap akibat Karhutla hingga 20 September 2026.
Perpanjangan tersebut dilakukan karena operasi penanganan dan pendinginan masih berlangsung melalui Satgas Darat dan Satgas Udara di sejumlah wilayah Kalimantan Barat.
Artinya, meskipun kondisi lapangan mulai membaik sebagaimana disampaikan Kapendam Kolonel Agung, pemerintah masih mempertahankan status penanganan darurat untuk memastikan kebakaran dan dampak asap benar-benar terkendali.
Ribuan Personel Dikerahkan
Pengendalian karhutla juga melibatkan kekuatan gabungan dalam jumlah besar.
BNPB sebelumnya mengerahkan lebih dari 15 ribu personel satuan tugas gabungan untuk penanganan karhutla di Kalimantan Barat.
Unsur yang terlibat mencakup pemerintah daerah, TNI, Polri, Manggala Agni, BPBD, Masyarakat Peduli Api, pemadam kebakaran, relawan dan berbagai elemen masyarakat.
Penanganan dilakukan melalui pemadaman langsung, pendinginan, patroli, pemantauan titik panas, verifikasi lapangan serta operasi udara dan modifikasi cuaca.
Asap di Pontianak Masih Perlu Diwaspadai
Dengan kondisi kebakaran yang mulai mereda, keberadaan asap di Pontianak sebagaimana disampaikan Kapendam tetap perlu dilihat dalam konteks arah angin dan kondisi sumber asap.
Asap dapat bergerak mengikuti pola angin sehingga lokasi munculnya kabut asap tidak selalu identik dengan lokasi kebakaran aktif.
Selain itu, bara yang tersisa di lahan gambut juga dapat menghasilkan asap meskipun api permukaan telah berhasil dipadamkan.
Karena itu, masyarakat tetap diimbau waspada terhadap kualitas udara dan mengikuti informasi resmi pemerintah serta BMKG, terutama ketika jarak pandang menurun atau kabut asap kembali meningkat.
Secara umum, data terbaru menunjukkan intensitas kebakaran aktif di sejumlah wilayah Kalimantan Barat memang mengalami penurunan dan sebagian lokasi telah memasuki tahap pendinginan.
Namun, luas kumulatif area yang terdampak sepanjang 2026 telah mencapai 48.535,73 hektare, sementara pemantauan satelit masih menemukan hotspot dalam jumlah signifikan.
Dengan kondisi tersebut, hujan dan upaya pemadaman yang semakin intensif memberikan perkembangan positif, tetapi pengawasan dan pendinginan tetap menjadi kunci agar bara yang tersisa tidak kembali memicu kebakaran. (cheryl)









