Banjir menerjang tiga desa di Kecamatan Kasimbar, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, dan berdampak terhadap 115 kepala keluarga (KK).

Pemerintah daerah kini mempercepat normalisasi sungai karena banjir di wilayah tersebut disebut berulang dan sedimentasi telah menyebabkan pendangkalan cukup tinggi.

Banjir terjadi pada Senin (24/08/2026) sekitar pukul 09.00 WITA setelah hujan berintensitas tinggi menyebabkan sungai meluap hingga menggenangi kawasan permukiman.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat tiga wilayah terdampak yakni Desa Kasimbar Palapi, Desa Kasimbar Induk, dan Desa Kasimbar Selatan.

Berdasarkan laporan Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Parigi Moutong yang dikutip Kabar Sulteng, 115 KK tersebut terdiri atas 33 KK di Kasimbar Palapi, 40 KK di Kasimbar Induk, dan 42 KK di Kasimbar Selatan.

Hingga pendataan awal, tidak dilaporkan adanya korban jiwa maupun warga yang mengungsi.

Banjir tidak hanya menggenangi permukiman.

Sejumlah fasilitas pendidikan, tempat ibadah, fasilitas umum, jalan desa, serta areal perkebunan turut terdampak.

BNPB dalam laporan nasionalnya mencatat dampak material berupa fasilitas peribadatan, fasilitas pendidikan dan fasilitas umum.

Sekitar empat hektare areal perkebunan juga terdampak.

Laporan Pusdalops BPBD Parigi Moutong memberikan rincian lebih jauh.

Di Kasimbar Palapi, banjir berdampak pada masjid, SD Alkhairaat, lapangan sepak bola, jalan desa, serta sekitar empat hektare kebun warga.

Di Kasimbar Induk, masjid dan sekolah dasar dilaporkan terdampak, sedangkan di Kasimbar Selatan banjir menggenangi SMP Negeri 1 Kasimbar.

Sehari setelah banjir, BPBD Parigi Moutong mempercepat normalisasi sungai untuk mengurangi risiko luapan kembali.

Pelaksana Tugas Kepala BPBD Parigi Moutong Moh Rivai mengatakan penanganan sungai menjadi kebutuhan mendesak karena banjir di Kasimbar bukan pertama kali terjadi.

“Banjir di Kasimbar peristiwa yang berulang, maka penanganan sangat dibutuhkan adalah normalisasi sungai,” kata Moh Rivai, sebagaimana dikutip ANTARA pada Selasa (25/08/2026).

Menurut Rivai, sedimentasi di sungai telah menyebabkan pendangkalan sehingga kapasitas aliran air berkurang.

Normalisasi di Desa Kasimbar Palapi dijadwalkan berlangsung selama tiga hari, sedangkan rangkaian pekerjaan ditargetkan sekitar enam hari sebelum dilanjutkan ke wilayah lain yang membutuhkan penanganan.

“Normalisasi merupakan langkah penanganan darurat. Pekan lalu wilayah tersebut juga dilanda banjir dan kegiatan normalisasi sudah dilakukan,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan Kasimbar telah mengalami banjir berulang dalam rentang waktu berdekatan.

Setelah pekerjaan di Kasimbar Palapi selesai, BPBD berencana melanjutkan normalisasi ke desa lain di wilayah tersebut.

Selain normalisasi, Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Parigi Moutong melakukan asesmen dan kaji cepat bersama pemerintah desa serta masyarakat.

BNPB dalam pembaruan situasi bencana nasional pada Selasa (25/08/2026) menyebut petugas gabungan masih memantau perkembangan banjir dan melakukan penanganan di lapangan.

Dalam laporan yang dihimpun hingga pukul 07.00 WIB, kondisi banjir dilaporkan belum sepenuhnya surut.

Pada laporan awal sehari sebelumnya, BPBD juga menyebut warga terdampak masih memilih bertahan di rumah masing-masing dan belum ada pengungsian.

Untuk penanganan sungai, BPBD berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum serta Balai Wilayah Sungai (BWS).

Normalisasi diprioritaskan agar aliran air kembali lancar dan risiko banjir susulan dapat ditekan.

BPBD pada Selasa juga menyatakan belum menyalurkan bantuan logistik makanan karena kebutuhan yang dianggap paling mendesak saat ini adalah penanganan sungai.

Pemerintah daerah masih menunggu pasokan logistik dari BNPB untuk kebutuhan penanggulangan bencana.

Ancaman banjir di Kecamatan Kasimbar sebenarnya telah tercantum dalam dokumen tata ruang Kabupaten Parigi Moutong.

Dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Parigi Moutong memasukkan Sungai Kasimbar dan Sungai Posona di Kecamatan Kasimbar sebagai bagian dari kawasan rawan banjir di kabupaten tersebut.

Kondisi tersebut memperkuat kebutuhan penanganan sungai secara berkelanjutan, terutama karena BPBD kini menemukan sedimentasi yang cukup tinggi di aliran sungai terdampak.

BNPB mengingatkan masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi banjir, khususnya ketika hujan dengan intensitas tinggi berlangsung.

Pemerintah daerah juga diminta memastikan kesiapan personel, sarana dan prasarana menghadapi potensi bencana hidrometeorologi.

Pemantauan dan asesmen di Kecamatan Kasimbar masih berlangsung.

Data dampak dapat berubah mengikuti hasil pendataan petugas di lapangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *