Dugaan ledakan terjadi di salah satu fasilitas smelter atau pabrik pemurnian nikel di kawasan industri Morosi, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, Sabtu (17/10/2026).
Informasi mengenai dugaan ledakan tersebut beredar di media sosial setelah sebuah video amatir yang disebut direkam di sekitar lokasi kejadian memperlihatkan kepulan asap berwarna kemerahan membubung tinggi ke udara.
Dalam rekaman yang beredar, terlihat kepulan asap cukup mencolok di sekitar area yang disebut sebagai lokasi smelter nikel.
Selain video kepulan asap, beredar pula foto yang memperlihatkan seseorang dengan kondisi bagian kepala tampak memerah.
Namun, belum dapat dipastikan apakah kondisi tersebut merupakan luka bakar akibat insiden yang dilaporkan.
Berdasarkan informasi yang beredar di media sosial, peristiwa tersebut diduga terjadi pada Sabtu (17/10/2026) sore.
Salah satu pengguna media sosial mengunggah video dengan keterangan yang menyebut adanya dugaan ledakan di fasilitas smelter OSS, kawasan Morosi, Kabupaten Konawe.
Dalam unggahannya, pengguna media sosial tersebut juga menyampaikan harapan agar peristiwa yang dilaporkan tidak menimbulkan korban jiwa.
“Astagfirullah, diduga terjadi ledakan di Smelter Satu OSS PT Morosi Konawe,” demikian potongan keterangan dalam unggahan yang beredar.
Meski demikian, informasi mengenai dugaan ledakan tersebut masih memerlukan konfirmasi lebih lanjut dari pihak perusahaan maupun instansi berwenang.
Belum dapat dipastikan penyebab munculnya kepulan asap kemerahan, apakah benar dipicu oleh ledakan atau berasal dari aktivitas maupun gangguan operasional lainnya.
Begitu pula mengenai kemungkinan adanya korban luka maupun korban jiwa, belum tersedia informasi resmi yang dapat memastikan kondisi tersebut.
Keaslian rekaman, waktu pengambilan gambar, dan keterkaitannya dengan lokasi kejadian juga masih perlu diverifikasi.
Keterangan resmi dari pihak pengelola fasilitas smelter, kepolisian, maupun instansi terkait diperlukan untuk memastikan kronologi dan penyebab peristiwa yang ramai diperbincangkan tersebut.
Masyarakat diimbau tidak terburu-buru menyimpulkan penyebab kejadian ataupun menyebarkan informasi mengenai jumlah korban sebelum ada kepastian dari pihak berwenang.




