Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Tengah mencatat 42 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sejak 18 Januari hingga 22 Agustus 2026.

Puluhan kejadian itu tersebar di 35 desa dan kelurahan, sementara pemerintah mengingatkan pembakaran hutan atau lahan yang dilakukan dengan sengaja dapat berujung pada proses pidana.

Kepala Pelaksana BPBD Sulawesi Tengah Asbudianto mengatakan masyarakat harus menghindari aktivitas yang berpotensi memicu api, termasuk membuka lahan dengan cara membakar dan membuang puntung rokok sembarangan.

“Sanksinya bisa masuk ranah pidana,” kata Asbudianto dalam keterangan di Palu, dikutip dari ANTARA, Selasa (25/08/2026).

Menurut dia, Polda Sulawesi Tengah juga telah mengeluarkan surat edaran mengenai sanksi bagi pelaku pembakaran lahan.

Peringatan itu disampaikan di tengah rentetan karhutla yang kembali terjadi di sejumlah wilayah Sulteng sepanjang Agustus.

Kepolisian di Sulawesi Tengah secara terpisah juga berulang kali mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara dibakar.

Polresta Banggai, misalnya, menyebut pembakaran hutan dan lahan dapat diproses pidana berdasarkan ketentuan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.

Rentetan terbaru tercatat pada periode Senin (17/08/2026) hingga Sabtu (22/08/2026).

Dalam enam hari itu, BPBD Sulteng mencatat sedikitnya enam kejadian karhutla di Kabupaten Tojo Una-Una, Donggala, dan Kota Palu.

Luas lahan terdampak yang telah diketahui sedikitnya mencapai 79 hektare.

Angka tersebut belum memasukkan dua lokasi yang luas kebakarannya belum tercatat dalam laporan BPBD.

Tojo Una-Una menjadi daerah dengan kejadian terbanyak, yakni empat kasus.

Dua kejadian lainnya masing-masing tercatat di Kabupaten Donggala dan Kota Palu.

Asbudianto mengatakan kebakaran dapat dipicu faktor alam maupun aktivitas manusia.

Namun berdasarkan temuan petugas di lapangan, sebagian besar kejadian yang ditangani diduga berkaitan dengan aktivitas manusia.

BPBD menyebut faktor manusia yang berpotensi memicu kebakaran antara lain pembukaan lahan dengan membakar, pembakaran sampah sembarangan hingga puntung rokok yang masih menyala.

Sementara secara alami, kondisi vegetasi yang kering akan meningkatkan kerentanan ketika terdapat sumber pemantik.

Salah satu kejadian terjadi di kawasan Gunung Kalendeng, Desa Balingara, Kecamatan Ampana Tete, Kabupaten Tojo Una-Una, pada Senin (17/08/2026).

BPBD memperkirakan sekitar 20 hektare lahan dan kawasan hutan terdampak.

Api diduga bermula dari puntung rokok di lahan warga kemudian merembet ke kawasan hutan.

Angin kencang dan kondisi vegetasi kering turut mempercepat penyebaran api.

Tim gabungan akhirnya berhasil memadamkan kebakaran pada Selasa (18/08/2026).

Tidak ada korban jiwa maupun warga yang harus mengungsi dalam peristiwa tersebut.

Pada hari yang sama, kebakaran lain terjadi di Desa Longge, Kecamatan Ampana Tete.

Luas kawasan terdampak mencapai sekitar 55 hektare dan api sempat mengancam merembet ke permukiman.

Karhutla juga terjadi di perkebunan warga Desa Alindau, Kecamatan Sindue Tobata, Kabupaten Donggala, pada Selasa (18/08/2026).

Medan yang sulit dijangkau menjadi kendala pemadaman, sementara luas area yang terbakar belum tercatat dalam data yang dipublikasikan BPBD.

Kebakaran berikutnya terjadi di Dusun Jompi, Kelurahan Malotong, Tojo Una-Una, pada Rabu (19/08/2026).

Api kembali diduga berasal dari puntung rokok sebelum menjalar melalui rumput dan dedaunan kering.

Sekitar dua hektare lahan terdampak dalam kejadian tersebut.

Karhutla kemudian terjadi di kawasan gunung di belakang permukiman Desa Tampanombo, Kecamatan Ulubongka, pada Jumat (21/08/2026).

Luas area terdampak juga tercatat sekitar dua hektare, sedangkan penyebabnya belum diketahui.

Catatan enam kejadian tersebut ditutup dengan kebakaran di kawasan Barako, Kelurahan Poboya, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu, pada Sabtu (22/08/2026).

Hingga laporan BPBD dipublikasikan, penyebab maupun luas lahan terdampak di lokasi tersebut belum diketahui.

Dengan demikian, angka 79 hektare merupakan luas minimum yang sudah terdata dari empat lokasi yang luas kebakarannya telah diketahui, yakni 20 hektare di Balingara, 55 hektare di Longge, dua hektare di Malotong dan dua hektare di Tampanombo.

RRI melaporkan tidak terdapat korban meninggal dunia, korban luka maupun warga mengungsi dalam enam kejadian karhutla pada periode 17–22 Agustus tersebut.

Ancaman kebakaran belum berhenti setelah rekap BPBD ditutup pada 22 Agustus.

Karhutla kembali dilaporkan di Desa Jojo, Kecamatan Dolo Barat, Kabupaten Sigi, pada Minggu (23/08/2026).

Kebakaran terjadi di kawasan Gunung Sibavho dan Gunung Sidoe pada lahan perkebunan warga.

Kodam XXII/Palaka Wira mengerahkan personel untuk membantu pemadaman bersama tim gabungan.

Lokasi kebakaran diperkirakan berjarak sekitar tiga kilometer dari permukiman dengan luas lahan terdampak sekitar tiga hektare.

Kejadian di Sigi tersebut terjadi setelah batas waktu rekap 42 kejadian yang dipublikasikan BPBD.

Hingga berita ini ditulis, belum ditemukan publikasi resmi terbaru BPBD Sulteng yang memperbarui angka kumulatif 42 kejadian tersebut.

Karena itu, kejadian di Sigi tidak langsung dijumlahkan ke dalam total.

Rentetan kebakaran terjadi ketika kondisi iklim Indonesia semakin kering akibat El Nino.

BMKG dalam analisis Dasarian II Agustus 2026 mencatat suhu muka laut di wilayah Nino 3.4 menunjukkan El Nino dengan intensitas sangat kuat.

Kondisi kemarau turut meningkatkan kerentanan terhadap kekeringan dan karhutla di berbagai wilayah.

BMKG sebelumnya juga mencatat Sulawesi Tengah termasuk provinsi yang telah mengalami kejadian karhutla pada awal Agustus.

Lembaga tersebut mengingatkan kondisi kering dan berkurangnya curah hujan meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.

Khusus kawasan Gunung Kalendeng di Tojo Una-Una, Stasiun Pemantau Atmosfer Global Lore Lindu Bariri BMKG menyebut prakiraan curah hujan Agustus 2026 berada pada kisaran 0–50 milimeter per bulan, masuk kategori rendah.

Curah hujan di kawasan tersebut juga diprakirakan berada di bawah normal.

Secara nasional, BMKG memantau El Nino 2026 telah aktif dan berpotensi membuat musim kemarau lebih kering serta lebih panjang di sebagian wilayah Indonesia.

Kondisi tersebut meningkatkan risiko kekeringan dan karhutla sehingga pemerintah daerah diminta memperkuat langkah mitigasi.

Di Sulawesi Tengah, BPBD meminta masyarakat segera melaporkan jika menemukan titik api agar penanganan dapat dilakukan sebelum kebakaran meluas.

Warga juga diminta tidak membuka lahan dengan membakar serta memastikan tidak ada sumber api yang ditinggalkan di kawasan dengan vegetasi kering.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *