Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) muncul di sejumlah wilayah Sulawesi Tengah dalam beberapa hari terakhir, mulai Kabupaten Morowali, Poso hingga Tojo Una-Una.

Rangkaian laporan Polda Sulteng yang dipublikasikan pada Rabu (02/09/2026) menunjukkan aparat bersama pemadam kebakaran dan masyarakat masih melakukan pemadaman serta pemantauan di sejumlah titik.

Kejadian tersebut berlangsung ketika Sulawesi Tengah memasuki salah satu periode paling kering tahun ini.

BMKG sebelumnya memprakirakan puncak musim kemarau 2026 terjadi pada September di sekitar 72 persen wilayah Sulawesi Tengah.

Kondisi kemarau tahun ini juga diprediksi lebih kering dari biasanya di sebagian besar zona musim provinsi tersebut.

Di Kabupaten Morowali, kebakaran melanda kawasan Blok E, Desa Bahomakmur, Kecamatan Bahodopi, pada Minggu (30/08/2026).

Personel Kompi 3 Batalyon C Pelopor Satbrimob Polda Sulteng yang dipimpin Iptu Muhamad Ristofan dikerahkan ke lokasi setelah menerima informasi munculnya titik api di kawasan vegetasi.

Brimob bersama warga melakukan penyemprotan air dan memotong jalur api untuk mencegah kobaran merambat ke kawasan lain.

Danyon C Pelopor Satbrimob Polda Sulteng Kompol Dimas Putra Kembaran mengatakan kerja sama personel dan masyarakat membantu mempercepat pengendalian kebakaran.

“Aksi tanggap darurat yang dilakukan oleh personel Kompi 3 di bawah pimpinan Iptu Muhamad Ristofan bersama warga di Blok E Desa Bahomakmur ini merupakan wujud nyata kesiapsiagaan dan pelayanan Brimob dalam melindungi lingkungan serta masyarakat,” kata Kompol Dimas, dikutip dari keterangan resmi Polda Sulteng.

Polda Sulteng menyatakan seluruh titik api di lokasi tersebut akhirnya berhasil dipadamkan dan situasi di Blok E Bahomakmur kembali terkendali.

Luas lahan yang terbakar maupun penyebab kebakaran belum disebutkan dalam keterangan tersebut.

Penanganan karhutla juga dilakukan di Kelurahan Sangele, wilayah Songilo Pesisir Danau Poso, Kecamatan Pamona Puselemba, Kabupaten Poso.

Personel Kompi 4 Batalyon B Pelopor bersama Dinas Pemadam Kebakaran mendatangi lokasi pada Senin (31/08/2026) malam.

Ketika tim tiba, sejumlah titik api masih terlihat.

Petugas menghadapi kondisi minim pencahayaan serta keterbatasan peralatan saat menjangkau titik-titik kebakaran.

“Personel bergerak bersama Damkar setelah menerima informasi adanya kebakaran. Meskipun pelaksanaan dilakukan pada malam hari dengan pencahayaan dan peralatan yang terbatas, personel tetap berupaya menangani setiap titik api agar tidak meluas,” kata Danki 4 Batalyon B Pelopor AKP Krisno H. Songko, dikutip dari keterangan Polda Sulteng.

Pemadaman dilakukan secara bertahap dengan menyasar titik api yang masih terlihat.

Petugas juga memantau kawasan sekitar untuk mengantisipasi munculnya titik api baru.

Keterangan Polda Sulteng tidak menyebut luas lahan yang terdampak maupun penyebab kebakaran di Sangele.

Karena itu, penyebab kejadian tersebut belum dapat disimpulkan.

Pada hari yang sama, karhutla juga ditangani di wilayah perbukitan Kelurahan Gebangrejo Induk, Kecamatan Poso Kota.

Satbrimob Polda Sulteng mencatat sekitar 3 hektare lahan terbakar sebelum api berhasil dipadamkan.

Situasi lebih tersebar terjadi di Kabupaten Tojo Una-Una.

Polres Tojo Una-Una mencatat penanganan karhutla sejak Senin (31/08/2026) hingga Selasa (01/09/2026) di beberapa kecamatan.

Lokasi yang menjadi perhatian antara lain RT 08 Kelurahan Uemalingku, Kecamatan Ratolindo; Uemarao Palampa di Desa Kasiala dan Desa Borneang, Kecamatan Ulubongka; serta Desa Longge, Kecamatan Ampana Tete.

Kasi Humas Polres Tojo Una-Una Iptu Martono mengatakan personel diterjunkan untuk mengecek lokasi, melakukan pemadaman dan berkoordinasi dengan instansi terkait.

“Personel di lapangan langsung melakukan pengecekan lokasi dan bersama-sama melaksanakan upaya pemadaman. Pemantauan juga terus ditingkatkan, terutama pada wilayah yang memiliki tingkat kerawanan karhutla,” ujar Iptu Martono dalam keterangan resmi Polres Tojo Una-Una, Rabu (02/09/2026).

Kebakaran di Kelurahan Uemalingku dilaporkan sekitar pukul 14.00 WITA pada Selasa (01/09/2026).

Petugas Polsek Ampana Kota dan Bhabinkamtibmas bersama pemadam kebakaran berhasil memadamkan api sekitar 20 menit kemudian.

Di Kecamatan Ulubongka, sistem LAPAN Fire Hotspot mendeteksi titik panas di wilayah Uemarao Palampa, Desa Kasiala, serta Desa Borneang.

Lokasi di Uemarao Palampa disebut berada sekitar tujuh kilometer dari permukiman dan sulit dijangkau kendaraan.

Berdasarkan pembaruan Polres Tojo Una-Una, titik tersebut masih memerlukan pemantauan lebih lanjut, sementara api di Desa Borneang yang berjarak sekitar dua kilometer dari permukiman telah padam.

Kebakaran lainnya terjadi di bawah lereng Gunung Batu Pongke atau Langgasan, Desa Longge, Kecamatan Ampana Tete.

Polisi memperkirakan luas area yang terbakar mencapai sekitar empat hektare.

Lokasinya berada sekitar delapan kilometer dari Kantor Desa Longge.

Sebelumnya, aparat gabungan juga melakukan pemadaman di Desa Cempa, Kecamatan Ulubongka, pada Sabtu (29/08/2026).

Penanganan melibatkan Brimob, Bhabinkamtibmas, Babinsa, pemadam kebakaran dan masyarakat.

Rentetan kebakaran tersebut terjadi bersamaan dengan kondisi cuaca yang masih didominasi musim kemarau.

BMKG dalam prakiraan periode 1–6 September 2026 menyebut curah hujan rendah, kurang dari 50 milimeter per dasarian, masih diprediksi mendominasi sebagian besar Pulau Sulawesi.

BMKG juga mengingatkan kondisi kering meningkatkan risiko kekeringan dan karhutla.

Khusus Sulawesi Tengah, prakiraan musim yang diterbitkan BMKG menunjukkan sekitar 52 persen zona musim diprediksi mengalami musim kemarau dengan sifat bawah normal atau lebih kering dibanding kondisi normal.

Sekitar 44,8 persen zona musim juga diprediksi mengalami durasi kemarau lebih panjang dari biasanya.

Polda Sulteng sebelumnya menerbitkan maklumat larangan pembakaran hutan dan lahan pada Sabtu (22/08/2026).

Polisi meminta masyarakat tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar serta segera melapor jika mengetahui adanya kebakaran.

Polri kemudian mengeluarkan Surat Telegram Nomor ST/1895/VIII/OPS.1.2./2026 tertanggal Senin (31/08/2026), yang meminta jajaran kepolisian meningkatkan kesiapsiagaan, pencegahan, penanggulangan dan penegakan hukum terhadap pembakaran hutan dan lahan.

Meski sejumlah titik telah dipadamkan, kondisi kering dan keberadaan lokasi yang sulit dijangkau membuat pemantauan tetap diperlukan.

Penyebab kebakaran di Bahomakmur, Sangele dan sejumlah lokasi Tojo Una-Una juga belum seluruhnya dijelaskan dalam keterangan resmi sehingga belum dapat dipastikan apakah dipicu faktor alam, kelalaian, atau aktivitas manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *