Pemadaman listrik bergilir di Kota Palu dan sejumlah wilayah Sulawesi Tengah telah dirasakan masyarakat hampir dua pekan, dengan durasi sekitar tiga hingga empat jam secara bergantian.

Hingga Selasa (08/09/2026), sistem kelistrikan Sulawesi Bagian Selatan (Sulbagsel) yang terhubung dengan Sulawesi Tengah belum sepenuhnya kembali normal.

Manager PLN UP3 Palu Ansar mengatakan pengaturan beban dilakukan untuk menjaga kestabilan sistem dan mencegah gangguan yang lebih besar.

Pasokan listrik ke Palu dan sekitarnya terhubung dengan jaringan interkoneksi yang mencakup sejumlah provinsi di Sulawesi.

Menurut PLN, pemadaman berkaitan dengan gangguan penyaluran saat pemeliharaan infrastruktur kelistrikan pada Sistem Sulbagsel.

Kondisi tersebut menyebabkan daya mampu pasok berkurang, sehingga beban harus diatur secara bergilir.

Pada Senin (07/09/2026), Ansar menyebut masyarakat telah mengalami pemadaman hampir dua pekan.

Durasi padam yang dirasakan sekitar tiga hingga empat jam setiap giliran.

Beban puncak listrik di wilayah kerja UP3 Palu saat ini berada di kisaran 260 hingga 270 megawatt (MW).

UP3 Palu melayani hampir 700 ribu pelanggan yang tersebar di delapan kabupaten/kota.

Wilayah kerjanya meliputi Kota Palu serta Kabupaten Sigi, Donggala, Parigi Moutong, Poso, Tojo Una-Una, Morowali dan Morowali Utara.

“Semoga situasi ini bisa secepatnya pulih sehingga aktivitas masyarakat tidak terganggu,” kata Ansar, sebagaimana dikutip dari ANTARA.

PLN UID Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah dan Gorontalo (Suluttenggo) sebelumnya menjelaskan bahwa pemeliharaan infrastruktur pada sistem interkoneksi membuat daya mampu pasok mengalami penurunan.

Dalam keterangan tertulis PLN pada Selasa (01/09/2026), pengaturan beban diperkirakan berlangsung sekitar satu hingga empat jam di sejumlah titik wilayah kerja UP3 Palu.

PLN meminta pelanggan memantau jadwal melalui PLN Mobile, media sosial resmi perusahaan maupun WhatsApp Channel ULP setempat.

Manager Komunikasi dan TJSL PLN UID Suluttenggo Noven N Koropit mengatakan petugas masih bekerja mempercepat pekerjaan.

“Petugas teknis terus bekerja di lapangan demi mempercepat penyelesaian pemeliharaan,” kata Noven dalam keterangan tertulis PLN.

Pemulihan Sistem Sulbagsel masih berlangsung hingga Selasa (08/09/2026).

PLN UID Sulselrabar melaporkan salah satu perkembangan terbaru adalah beroperasinya kembali PLTU Jeneponto berkapasitas 125 MW.

Pembangkit tersebut telah kembali memasok listrik ke sistem.

Namun, sebagian pembangkit lain masih membutuhkan optimalisasi.

Akibatnya, daya mampu pasok Sulbagsel belum sepenuhnya kembali ke kondisi normal.

PLN masih menerapkan pengaturan beban secara bertahap dan terukur mengikuti kondisi sistem secara real time.

Jadwal maupun besaran pengaturan dapat berubah menyesuaikan kondisi pembangkit dan jaringan.

General Manager PLN UID Sulselrabar Edyansyah mengatakan perusahaan mengoptimalkan seluruh sumber pasokan yang tersedia sembari mempercepat penanganan pembangkit yang belum optimal.

PLN juga melakukan pengaturan pola operasi pembangkit untuk memperkecil kebutuhan pemadaman bergilir.

Di luar pemeliharaan sistem, kondisi cuaca turut menjadi tantangan bagi kelistrikan Sulawesi.

Ansar mengatakan suhu panas meningkatkan pemakaian listrik masyarakat sehingga beban pada sistem ikut bertambah.

Namun, faktor tersebut perlu dibedakan dari penyebab utama pemadaman saat ini.

PLN UID Sulselrabar sebelumnya menyatakan pemadaman bergilir yang dimulai pada akhir Agustus hingga awal September bukan disebabkan langsung oleh El Nino maupun penurunan debit PLTA, melainkan pemeliharaan fasilitas ketenagalistrikan.

Penurunan debit air memang terjadi, tetapi saat pernyataan itu disampaikan belum dinilai memberi dampak signifikan terhadap produksi listrik.

Pemeliharaan tersebut sekaligus dilakukan PLN sebagai langkah mitigasi menghadapi musim kemarau dan El Nino, ketika pasokan air untuk sejumlah PLTA berpotensi berkurang.

Tekanan dari kondisi hidrologi terlihat di Danau Poso.

PT Poso Energy sebelumnya melaporkan berkurangnya curah hujan di kawasan tangkapan air Danau Poso membuat elevasi danau lebih rendah dibanding musim kemarau pada beberapa tahun sebelumnya.

Kondisi itu memengaruhi pola operasi PLTA Poso.

PLTA Poso memiliki kapasitas terpasang 515 MW.

Energi yang dihasilkan disalurkan melalui PLN untuk melayani kebutuhan masyarakat dan industri di Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat dan Sulawesi Tenggara.

Menghadapi El Nino, Poso Energy mengatur produksi pada semester II 2026.

Porsi produksi direncanakan sekitar 45 persen selama musim kemarau dan 55 persen pada periode musim hujan.

Sebagian produksi pada September-Oktober juga digeser ke November-Desember dengan persetujuan PLN untuk menyesuaikan ketersediaan air Danau Poso.

Kondisi tersebut sejalan dengan prakiraan resmi BMKG Sulawesi Tengah.

BMKG memperkirakan sekitar 72 persen wilayah Sulteng mencapai puncak musim kemarau pada September 2026.

Sebanyak 15 dari 29 Zona Musim atau sekitar 52 persen wilayah juga diprediksi mengalami sifat musim kemarau bawah normal atau lebih kering dari biasanya.

BMKG juga memperkirakan durasi musim kemarau di sekitar 44,8 persen Zona Musim Sulawesi Tengah lebih panjang dibanding kondisi normal.

PLN meminta masyarakat terus memantau informasi resmi mengenai jadwal dan wilayah yang terdampak pengaturan beban melalui PLN Mobile serta kanal resmi ULP.

Hingga pembaruan terakhir, perusahaan belum menyatakan Sistem Sulbagsel telah sepenuhnya kembali normal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *